Hantu dalam Hak Kesulunganku: Mengungkap Trauma Seumur Hidup Melalui Masa Lalu yang Tersegel

14

Selama berpuluh-puluh tahun, akta kelahiran saya yang asli tetap terkunci, sebuah catatan terlarang tentang identitas yang sengaja dirahasiakan. Lahir pada tahun 1977, asal usulku dikaburkan, memaksaku untuk tumbuh dalam bayang-bayang cerita yang tidak pernah boleh aku ungkapkan. Ini bukan sekedar pengawasan birokrasi; hal ini merupakan konsekuensi yang disengaja dari “era baby scoop” pada tahun 1940-an hingga 1970-an, ketika para ibu muda ditekan untuk menyerahkan bayi mereka yang baru lahir, sering kali dengan kedok rasa malu dan moralitas agama.

Dampak psikologis dari pemisahan yang dipaksakan ini diabaikan selama beberapa generasi, meninggalkan banyak anak dengan apa yang sekarang dipahami sebagai trauma pra-verbal — sebuah luka yang sudah mendarah daging sebelum kemampuan untuk mengartikulasikannya. Hal ini bermanifestasi sebagai masalah keterikatan yang terus-menerus, ketakutan yang mendalam akan ditinggalkan, dan harga diri yang terdistorsi. Meskipun saya dibesarkan sebagai anak angkat yang stabil, saya mengalami kecemasan kronis, depresi, dan kehampaan yang tak tergoyahkan. Tidak adanya ikatan sejak dini meninggalkan kerentanan tak terlihat yang membentuk seluruh hidup saya.

Adopsi, selain memberikan stabilitas, juga menanamkan benih kerugian yang tak terhindarkan. Kematian mendadak ibu angkat saya saat remaja memperkuat ketakutan ini. Belakangan, bertahun-tahun yang dihabiskan dalam pernikahan yang penuh kekerasan semakin menegaskan hal tersebut: pengabaian bukanlah peristiwa yang terjadi satu kali, namun merupakan erosi perlahan terhadap rasa aman dan kasih sayang. Hal ini menyebabkan penyalahgunaan obat-obatan sebagai upaya putus asa untuk menghilangkan harapan akan ketertinggalan.

Butuh waktu puluhan tahun untuk menjalani pola yang merusak diri sendiri sebelum ketenangan dan terapi mengungkap kebenaran: trauma awal saya telah mengakar. Ketika ayah saya meninggal, hal itu memicu gelombang kesedihan bukan hanya bagi dirinya, namun juga bagi ibu kandung yang tidak pernah saya kenal. Pola kehilangan terus berlanjut, setiap kejadian memperkuat keyakinan bahwa pengabaian tidak bisa dihindari.

Perubahan baru-baru ini dalam undang-undang adopsi Minnesota akhirnya memberi saya akses ke catatan kelahiran asli saya. Dokumen yang tersegel itu mengungkapkan kebenaran yang nyata: nama ibu saya, gambaran fisiknya, dan baris kosong di mana identitas saya seharusnya berada. Aku bahkan tidak diakui sebagai “bayi perempuan”—suatu kekosongan yang seharusnya merupakan awal mulaku.

Penelitian lebih lanjut mengungkap bagian-bagian kehidupannya: seorang wanita yang hidup di pinggiran, bekerja serabutan sambil menekuni pekerjaan energi dan spiritualitas. Dia adalah seorang yang berempati, tidak percaya pada masyarakat konvensional, dan hidup dengan nama samaran sampai kematiannya pada tahun 2020, tanpa berita kematian atau peringatan untuk menandai keberadaannya. Kehidupannya mencerminkan ketidakstabilan saya sendiri, menunjukkan kecenderungan genetik yang sama terhadap gangguan kepribadian ambang, yang diperburuk oleh trauma.

Wahyu ini bukan sekedar sejarah; itu sangat pribadi. Saya sekarang mengenali faktor genetik dan lingkungan yang membentuk perjuangan kesehatan mental saya. Seandainya asal usul saya diketahui lebih awal, intervensi dini mungkin dapat mengurangi penderitaan saya selama bertahun-tahun. Namun hingga saat ini, mengungkap kisahnya telah memberi saya sesuatu yang sangat berharga: rasa memiliki terhadap suatu garis keturunan, meskipun terpecah dan tidak lengkap.

Hari ini, aku berdiri dalam kebenaran tentang siapa diriku, akhirnya mengakui bagian tenang dirinya yang selalu ada dalam diriku. Dengan dukungan suami dan keluarga yang terus bertambah, saya membangun kembali fondasi yang seharusnya sudah diletakkan sejak awal. Masa lalu tidak dapat dibatalkan, tetapi rahasianya tidak lagi berkuasa atas masa depan saya.

Pengalaman ini menggarisbawahi dampak jangka panjang dari adopsi paksa dan pentingnya mengakui trauma yang ditimbulkannya. Hanya dengan menghadapi sejarah yang terkubur ini kita dapat mulai menyembuhkan luka generasi yang lalu.