Pernyataan Seksis Jesse Watters di Fox News Memicu Ketidaknyamanan Bahkan di Kalangan Rekan Kerja

18

Tokoh Fox News Jesse Watters membuat serangkaian pernyataan yang menghasut dan seksis pada episode “The Five” hari Rabu, yang memicu ketidaknyamanan yang terlihat dari rekan pembawa acaranya, Greg Gutfeld. Komentar Watters berpusat pada skeptisismenya terhadap kemungkinan presiden perempuan, dengan alasan bahwa perempuan tidak memiliki “kematangan emosional” dan “kontak profesional” yang diperlukan untuk peran tersebut.

Komentar yang Menghina tentang Kepemimpinan Perempuan

Watters membuat pernyataan awal setelah klip dari Rep. Nancy Pelosi dan Gubernur Gavin Newsom. Ketika diminta untuk membenarkan pernyataannya bahwa ia “berharap tidak ada presiden perempuan di masa hidupnya”, Watters menyebutkan serangkaian “alasan” yang misoginis, termasuk mempertanyakan kemampuan perempuan untuk mendapatkan “rasa hormat dari para jenderal” dan memiliki “selera humor” yang cocok untuk jabatan presiden.

Watters kemudian mengklaim ucapannya tidak tulus dan menyampaikan pernyataan itu sambil tersenyum. Namun, Gutfeld menanggapinya dengan rasa frustrasi yang jelas, menuduh Watters sengaja memancing kemarahan karena bosan.

Perbandingan Newsom dengan Wanita

Watters kemudian mengalihkan perhatiannya ke Gubernur California Gavin Newsom, mengklaim Newsom bisa menjadi presiden wanita pertama “karena ketika saya mendengarnya berbicara, dia terdengar seperti seorang wanita.” Dia menuduh Newsom memiliki “ketidakstabilan emosional,” yang menunjukkan bahwa motivasi politisi tersebut untuk mencalonkan diri berakar pada trauma masa kecil dan kebutuhan akan validasi.

Watters sebelumnya membandingkan Newsom dengan seorang wanita di awal minggu, menyatakan Newsom adalah “seperti wanita yang terjebak dalam tubuh pria,” mengutip ekspresi emosional dan kesadaran diri sebagai buktinya.

Konteks Retorika yang Lebih Luas

Komentar Watters mengikuti pola retorika yang provokatif dan sering kali memecah belah di Fox News. Insiden ini menyoroti toleransi jaringan tersebut terhadap sudut pandang ekstrem, bahkan ketika hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan di antara kepribadiannya sendiri.

Pernyataan tersebut juga menggarisbawahi perdebatan yang sedang berlangsung seputar dinamika gender dalam politik dan media, dimana pernyataan Watters merupakan contoh nyata dari stereotip yang sudah ketinggalan zaman dan berbahaya.

Insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab tokoh media untuk menghindari melanggengkan prasangka dan peran jaringan dalam mengatur perilaku tersebut.