Penggambaran Demensia yang Menyesatkan di Hollywood: Mengapa Itu Penting

8

Penggambaran demensia di Hollywood seringkali tidak akurat, berbahaya, dan melanggengkan stereotip yang berbahaya. Dari nenek-nenek setan dalam film horor hingga penurunan kognitif yang terlalu disederhanakan dalam drama, industri hiburan sering kali salah memahami realitas penurunan kognitif. Representasi yang keliru ini bukan hanya kesalahan kreatif; hal ini membentuk pemahaman masyarakat, mempengaruhi persepsi keluarga, dan menunda intervensi medis yang penting.

Masalah dengan Lisensi Dramatis

Salah satu kiasan yang umum adalah kemunduran yang cepat dan berlebihan seperti yang terlihat dalam film seperti “The Taking of Deborah Logan,” di mana Alzheimer digambarkan sebagai jalur cepat menuju perilaku kekerasan dan tidak menentu. Bahkan film-film yang mempunyai niat baik seperti “The Notebook” gagal karena melewatkan perkembangan penyakit yang lambat dan bertahap, sehingga memberikan kesan yang salah kepada pemirsa bahwa demensia menyerang secara tiba-tiba dan bukannya berlangsung selama bertahun-tahun.

Neuropsikolog Tom Kiely menunjukkan bahwa penggambaran ini sering kali mereduksi penderita demensia menjadi karikatur satu dimensi: lemah, rapuh, kekanak-kanakan, dan hampa emosi. Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Kaitan Berbahaya Antara Demensia dan Kejahatan

Hubungan demensia dengan kekerasan tidak hanya sekedar horor. Bahkan acara mainstream seperti “The Rookie” di ABC telah menampilkan karakter penderita demensia yang ternyata adalah pembunuh berantai, sehingga memperkuat gagasan bahwa kondisi tersebut setara dengan bahaya. Penggabungan ini, seperti dijelaskan oleh Profesor Lee-Fay Low, menciptakan “monster yang rentan” dalam imajinasi publik.

Hal ini sangat berbahaya karena keluarga mungkin beralih ke media untuk mendapatkan pemahaman dan malah menerima narasi yang menyimpang dan didasari rasa takut.

Perkembangan Demensia yang Nyata

Penyakit Alzheimer, yang menyerang sekitar 7 juta orang Amerika, tidak hanya menghapus ingatan dalam semalam. Penyakit ini berkembang secara bertahap: fase awal “diam-diam” di mana hanya sedikit sel yang terpengaruh, diikuti dengan penurunan kognitif yang memerlukan waktu puluhan tahun untuk terwujud sepenuhnya.

Kenyataannya adalah kehilangan ingatan tidak selalu merupakan gejala pertama atau paling menonjol. Perubahan kepribadian, ketidakstabilan emosi, dan kesulitan bahasa sering kali diabaikan karena kehilangan ingatan yang dramatis. Penyakit ini bukan hanya tentang lupa nama; ini tentang kehilangan hambatan, mengalami kebingungan, dan mengalami perubahan perilaku yang mendalam.

Bagaimana Hollywood Dapat Melakukan Lebih Baik

Beberapa film menawarkan penggambaran yang lebih bernuansa. “Still Alice” yang dibintangi Julianne Moore secara akurat menggambarkan tahap awal penyakit Alzheimer, menunjukkan hilangnya identitas dan perjuangan untuk beradaptasi. “The Father,” yang dibintangi Anthony Hopkins, membawa penonton ke dalam kebingungan akibat penurunan kognitif, menawarkan pengalaman yang mendalam dan akurat.

Kuncinya adalah beralih dari demensia sebagai alat plot dan menuju representasi pengalaman hidup yang realistis. Tunjukkan momen-momen kompetensi bersamaan dengan gangguan, soroti strategi untuk kemandirian, dan jelajahi perjuangan keluarga dalam beradaptasi dengan penyakit ini.

Film dokumenter, seperti “A Road Trip to Remember” karya Chris Hemsworth, juga efektif. Dengan mengikuti pengalaman nyata dan perawatan seperti terapi kenang-kenangan, mereka menawarkan pandangan yang lebih tulus tentang demensia.

Pada akhirnya, Hollywood harus menyadari bahwa representasi yang akurat bukan hanya soal kepekaan—tetapi juga tentang menghilangkan stigma yang merugikan dan mendorong pemahaman yang terinformasi. Industri ini mempunyai tanggung jawab untuk menggambarkan demensia dengan kompleksitas dan kemanusiaan yang layak diterimanya.