Selama enam tahun, dimulai pada usia empat belas tahun, saya menulis lebih dari seratus surat kepada calon suami saya. Niatnya sederhana: membaginya dengan pria yang ditakdirkan untuk saya nikahi, sesuai dengan ajaran Kristen evangelis di masa muda saya. Kini, sebagai seorang remaja berusia tiga puluh tahun yang telah lama mendekonstruksi keyakinan tersebut, membacakan surat-surat itu dengan lantang kepada suami saya yang sebenarnya sungguh menyiksa sekaligus memberikan kebebasan.
Surat-surat tersebut merupakan peninggalan dari “budaya kemurnian” – sebuah gerakan yang dominan pada tahun 1990an dan 2000an yang mempromosikan pantangan seksual, peran gender tradisional, dan pernikahan sebagai tujuan akhir bagi perempuan muda. Ini bukan sekedar menunggu pernikahan; ini tentang mempersiapkan dengan semangat yang hampir obsesif. Dari permainan masa kecil yang melibatkan miniatur gaun pengantin hingga penekanan tanpa henti pada peran masa depan saya sebagai pengantin, pesannya jelas: nilai saya terletak pada ketundukan saya pada seorang suami.
Tumbuh di lingkungan ini berarti berkencan bukanlah hal biasa; itu adalah jalan langsung menuju pernikahan. Fantasi menjadi pengantin bukan sekadar permainan masa kecil, melainkan identitas yang mendarah daging. Ini tentang kekuasaan, visibilitas, dan pemujaan – cita-cita yang diperkuat oleh ajaran agama yang menyamakan pernikahan dengan tujuan dan hak pilihan.
Surat-surat itu sendiri sangat menarik. Salah satu dari usia empat belas tahun merinci kemurnian keperawanan saya dan “hadiah istimewa” yang saya simpan untuk calon suami saya. Namun di luar kecanggungan tersebut, mereka mengungkapkan upaya putus asa untuk mengendalikan sesuatu dalam hidup yang sering kali terasa di luar kendali. Dalam agama yang patriarki dan memiliki kontrol tinggi, pernikahan terasa seperti satu-satunya jalan menuju kekuasaan, stabilitas, dan pelarian.
Enam belas tahun setelah menulis surat terakhir, saya menemukannya kembali dan mulai membagikannya secara online. Respon yang diberikan sangat luar biasa. Ribuan perempuan telah berbagi pengalaman mereka tentang budaya kemurnian, pembakaran jurnal-jurnal lama, dan perjalanan dekonstruksi mereka sendiri.
Ironisnya, saya masih ingat: surat yang ditujukan untuk calon suami telah menjadi sumber koneksi dan penyembuhan. Membacakannya bersama suami saya, Zach, merupakan proses yang menyakitkan namun perlu. Kita tertawa, merasa ngeri, dan kita mengenali gaung masa lalu yang masih membentuk masa kini.
Kesadaran yang paling kuat adalah bahwa surat-surat itu salah arah, namun wanita muda yang menulisnya hanya berusaha untuk bertahan hidup. Dia tumbuh dari seorang gadis remaja yang terobsesi dengan pernikahan menjadi seorang wanita yang menyadari bahwa nilainya jauh melampaui status perkawinannya.
Menyembuhkan adalah hal paling berani yang pernah saya lakukan. Berbagi surat-surat ini bukan tentang keberanian, tapi tentang kasih sayang terhadap gadis yang percaya bahwa pernikahan adalah satu-satunya jalan baginya. Jika Anda tumbuh di lingkungan yang sama, semoga kisah ini mengingatkan Anda bahwa ada kekuatan, hak pilihan, dan tujuan selain menjadi istri seseorang. Surat-surat itu dimaksudkan untuk menghubungkan saya dengan calon suami saya, dan memang demikian. Hanya saja tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.


























